{"id":1207,"date":"2021-12-28T23:09:09","date_gmt":"2021-12-28T23:09:09","guid":{"rendered":"https:\/\/sriinstitute.com\/?p=1207"},"modified":"2021-12-30T09:59:14","modified_gmt":"2021-12-30T02:59:14","slug":"diskusi-dan-peluncuran-buku-hasil-penelitian-sri-institute-ora-obah-ora-mamah","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/diskusi-dan-peluncuran-buku-hasil-penelitian-sri-institute-ora-obah-ora-mamah\/","title":{"rendered":"Diskusi dan Peluncuran Buku Hasil Penelitian SRI INSTITUTE: Ora Obah, Ora Mamah"},"content":{"rendered":"<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-1208\" src=\"https:\/\/sriinstitute.com\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/WhatsApp-Image-2020-12-12-at-13.57.47-1024x1024-1.jpeg\" alt=\"\" width=\"1024\" height=\"1024\" \/>Sebagaimana pengalaman banyak bencana, gender menjadi dimensi penting yang berkontribusi pada kerentanan, namun seringkali luput dalam berbagai upaya penanganan bencana. Hal tersebut juga terjadi dalam penanganan bencana pandemi COVID-19 yang masih belum dilengkapi dengan pendekatan berbasis gender secara komprehensif. Pendekatan berbasis gender perlu dilakukan untuk melihat pola dan distribusi kerentanan, hingga membuat upaya penanganan pandemi yang secara efektif merespon kebutuhan yang berbeda antara perempuan dan laki-laki. Ini perlu menjadi perhatian, karena norma sosial yang tidak adil gender bisa menjadikan krisis justru semakin mempertajam ketidakadilan gender yang sudah ada sejak sebelum krisis. Akibatnya, isu-isu gender tidak menjadi prioritas dalam penanganan pandemi, seperti persoalan peningkatan beban kerja domestik, risiko dan keterpaparan pada wabah , isu kekerasan berbasis gender, hingga dampak pada sektor ekonomi dan pemiskinan yang dihadapi perempuan.<\/p>\n<p>Terkait dengan kebutuhan pendokumentasian isu gender di masa pandemi Covid-19, Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) Indonesia bekerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan SRI INSTITUTE melakukan penelitian berupa studi kasus tentang Gender pada Sektor Informal di Masa Pandemi Covid-19 dengan fokus pada dimensi sosial-ekonomi.\u00a0 pada perempuan di sektor informal. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mengidentifikasi respon dan ketangguhan perempuan dan laki-laki selama pandemi, 2) Merumuskan rekomendasi terkait denga pendekatan penanggulangan Covid-19 yang responsif gender. Penelitian dilakukan di Provinsi DI Yogyakarta dengan melibatkan 40 informan. Proses seleksi informan dilakukan dengan mengidentifikasi sektor-sektor informal yang berperan penting dalam ekonomi dan penanggulangan kemiskinan di wilayah Provinsi DI Yogyakarta.<\/p>\n<p>Studi menemukan bahwa di sektor informal yang didominasi oleh perempuan memiliki sejumlah kendala untuk bisa mengakses program perlindungan sosial. Kendala yang utama adalah informalitas itu sendiri, membuat mereka tidak punya cukup akses terhadap informasi dan mekanisme jaminan sosial-ekonomi termasuk ketika pandemi, karena distribusi skema semacam ini biasanya lebih banyak memakai kanal formal.\u00a0 Secara umum, persyaratan untuk mengakses program bantuan mencakup syarat-syarat formal seperti surat ijin atau agunan, yang justru kebanyakan tidak dapat dipenuhi oleh sektor informal. Studi juga menemukan bahwa secara sosial, norma dan ruang gerak yang berbeda membuat laki-laki lebih banyak memiliki kesempatan dan waktu untuk mengakses sumber-sumber penting terkait informasi dan pengetahuan, serta berbagai keistimewaan\u00a0<em>(privilege)<\/em>\u00a0 yang membuat suara laki-laki menjadi penentu dalam proses-proses pengambilan keputusan. Pada aspek ekonomi, meskipun ada kemiripan dengan permasalahan yang dihadapi perempuan,\u00a0 laki-laki juga memiliki berbagai keistimewaan dalam hal akses pada dan memegang kendali atas sumber daya yang lebih besar. Namun demikian, studi juga menemukan bukti-bukti awal bahwa walaupun dihadapkan dengan berbagai keterbatasan, perempuan juga memiliki kontribusi penting dan menjadi agensi dalam pengelolaan krisis, baik bagi dirinya, keluarga, maupun komunitas. Misalnya, soal ketaatan menerapkan 3 M, studi menemukan bahwa perempuan yang paling aktif mengingatkan keluarga dan komunitas soal kepatuhan menggunakan masker dan cuci tangan. Hal lainnya adalah soal bagaimana perempuan berupaya untuk tetap\u00a0<em>ubet\u00a0<\/em>atau mencari alternatif sumber penghasilan di situasi krisis yang berkepepanjangan demi mengelola kesejahteraan keluarga.<\/p>\n<p>Sebagai upaya untuk melakukan diseminasi, para pihak berinisiatif untuk mengadakan diskusi dan peluncuran buku hasil penelitian tersebut dengan judul:\u00a0\u00a0<em>ORA OBAH, ORA MAMAH: Studi Kasus Gender pada Sektor Informal di Masa Pandemi COVID-19.\u00a0<\/em>Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi media reproduksi pengetahuan dalam mengeksplorasi lebih dalam interseksi isu gender dan ekonomi di masa krisis akibat pandemi yang berkepanjangan ini. Selain itu, diskusi ini dapat menjadi sarana pembelajaran dimana para peserta dapat saling membagi pengalaman dan praktik baik dalam mengatasi dampak atau risiko berbasis gender sekaligus pemetaan strategi yang lebih berketahanan.<\/p>\n<p>Diskusi dikemas dalam format talkshow melalui media online Zoom dan dilaksankan pada Senin, 14 Desember 2020 jam 09-00 hingga jam 11.00 WIB. Dengan Keynote Speaker oleh Y.B. Satya Sananugraha sebagai Plt. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Pemuda, Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), lalu dilanjutkan pemaparan hasil kajian oleh SRI INSTITUTE yang diwakili Dati Fatimah dan Desintha Dwi Asriani. Terakhir, hasil kajian akan dibahas olehProf. Nurul Indarti, PhD, Pengajar dan Peneliti Isu Gender dan Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, Titi Eko Rahayu, Staf Ahli Menteri Bidang Pengentasan Kemiskinan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Leya Catleyya , Pemerhati Isu Gender dan Penggerak Solidaritas Perempuan di Masa Pandemi dan Muhammad Firdaus, Staf Ahli Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagaimana pengalaman banyak bencana, gender menjadi dimensi penting yang berkontribusi pada kerentanan, namun seringkali luput dalam berbagai upaya penanganan bencana. Hal tersebut juga terjadi dalam penanganan bencana pandemi COVID-19 yang masih belum dilengkapi dengan pendekatan berbasis gender secara komprehensif. Pendekatan berbasis gender perlu dilakukan untuk melihat pola dan distribusi kerentanan, hingga membuat upaya penanganan pandemi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1208,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[],"jenis_media":[15],"jenis_publikasi":[],"kategori_riset":[],"class_list":["post-1207","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kebencanaan-dan-perubahan-iklim","jenis_media-berita"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1207","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1207"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1207\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1209,"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1207\/revisions\/1209"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1208"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1207"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1207"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1207"},{"taxonomy":"jenis_media","embeddable":true,"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/jenis_media?post=1207"},{"taxonomy":"jenis_publikasi","embeddable":true,"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/jenis_publikasi?post=1207"},{"taxonomy":"kategori_riset","embeddable":true,"href":"http:\/\/sriinstitute.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/kategori_riset?post=1207"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}